![]() |
| Tanam pohon bersama |
Purwakarta — Suasana penuh kehangatan dan persaudaraan lintas iman terasa kental dalam Perjumpaan Ekoteologi yang digelar pada Selasa, 31 Maret 2026 pukul 14.00 WIB di Kebun Persahabatan Purwakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari iman dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama dan pemangku kepentingan, di antaranya Sekretaris PWNU Jawa Barat KH Ade, Ketua MUI Purwakarta Drs. KH. M. John Dien, Th, SH, M.Pd, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd selaku Ketua Yayasan Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, Ketua LP Ma’arif NU Jawa Barat, Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Ketua Umum Badan Kerja Sama Gereja (BKSG) Kabupaten Purwakarta Pdt. Jhonnaren Tarigan, S.Th, PHDI FKUB Hindu I Made Kandi, Pendeta Hatorangan Situmorang, S.Th., M.A., Bhante Kamsai Simano Mahatera, 10 perwakilan PBNU Pusat Tim Alysa Wahid, serta tokoh-tokoh lainnya seperti Erwin Jimmy, Odie, Endang dari Disdukcapil Purwakarta, Penyuluh Dinas Kehutanan Penyuluh Kehutanan pada Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah II Purwakarta (meliputi Purwakarta dan Subang) bertugas melakukan edukasi, pembinaan kelompok tani, dan fasilitasi pengelolaan hutan lestari serta perhutanan sosial dan Lala Jatman.
Kegiatan diawali dengan bincang santai di Pondok Kopi, sambil menikmati keindahan Kebun Persahabatan seluas 10 hektar yang ditanami berbagai pohon dari seluruh Nusantara. Dialog hangat tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari iman, bukan sekadar kewajiban sosial. Lahan seluas kurang lebih 10 hektar ini merupakan milik Bhante Kamsai, yang diperoleh melalui hibah dari umat Buddha Purwakarta Jawa Barat sebagai bentuk dukungan dan kepercayaan terhadap karya pelayanan serta pengembangan nilai-nilai kebajikan dan persaudaraan. Secara administratif, lahan ini terletak di Jalan Jl. Kapten Halim, Desa Salam Mulya, Kecamatan: Pondoksalam, Kabupaten: Purwakarta, Provinsi: Jawa Barat.
Lahan ini berada di wilayah Kecamatan Pondoksalam, yang dikenal memiliki suasana alam yang asri dan potensial untuk pengembangan kegiatan berbasis lingkungan, spiritualitas, serta kebersamaan lintas umat. Dengan luas yang cukup besar, lahan ini menjadi tempat yang strategis untuk berbagai kegiatan seperti edukasi lingkungan, ekoteologi, pertanian berkelanjutan, serta perjumpaan lintas agama dalam semangat persaudaraan dan perdamaian.
Salah satu momen penting adalah penanaman pohon damar dan pohon kelapa jenis gencah pandan wangi, yang dibawa dari Galeri Silaturahmi Nusantara Rest Area 72A. Penanaman dilakukan di area pembangunan Rumah Sehat sebagai simbol harapan akan kehidupan yang berkelanjutan dan harmonis antara manusia dan alam. Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama di Area Pintu 3, menyajikan hidangan seperti tomyum dan berbagai lauk lainnya. Dalam suasana santai tersebut, para peserta berdiskusi tentang peran strategis dalam penggerakan pendidikan, kemandirian ekonomi, serta kehidupan keagamaan yang berwawasan lingkungan.
Ekoteologi yang menjadi fokus utama perjumpaan ini menegaskan bahwa bumi adalah ciptaan suci yang harus dirawat, bukan dieksploitasi. Konsep ini menekankan relasi segitiga antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Sebagai puncak acara, dilaksanakan doa bersama lintas agama yang dipimpin secara bergiliran. Doa diawali oleh Ketua MUI FKUB Purwakarta Drs. KH. M. John Dien, Th, SH, M.Pd, dilanjutkan oleh perwakilan Kristen Pendeta Pdt. Jhonnaren Tarigan, S.Th, ketua BKSG, Hindu dari PHDI FKUB, Yohanes Katolik serta Buddha oleh Bhante Kamsai. Suasana khidmat dan penuh toleransi menjadi gambaran nyata harmoni keberagaman di Purwakarta.
Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta sepakat untuk mengadakan kegiatan “Camping Moderasi Beragama” sebagai langkah konkret menuju Purwakarta Istimewa yang rukun, damai, Lestari dan berkelanjutan.
Perjumpaan ini menjadi bukti bahwa merawat alam adalah panggilan iman bersama. Dalam kebersamaan lintas agama, terbangun harapan baru bahwa bumi dapat terus dijaga sebagai rumah bersama yang penuh kasih dan tanggung jawab. Yohanes Baptis Katekis.

Posting Komentar untuk "Merawat Bumi Sebagai Ibadah Bersama"