Dari kiri: John S Keban, FX.Sudardi (tokoh Golkar) Y.Suwalji (komanda pasukan rewo-rewo)
Wahyuni, Gandung dan Y.Ngadiyo
Ada “Pasukan Rewo-rewo”.
Sekelompok mantan aktivis Pemuda Katolik berkumpul setiap menjelang natal dan
paskah. Untuk apa mereka kumpul? Ternyata mereka kumpul bukan hura-hura, tetapi
menjaga keamanan gereja, karena setiap hari besar natal dan paskah rasanya
tidak nyaman, ada saja isu yang muncul. Mereka kumpul atas inisiatif sendiri,
minum dan snack ya seadanya. Saya sebagai aktivis Pemuda Katolik juga ikut
didalamnya.
Pasukan Rewo-rewo ini
terdiri dari para mantan aktivis Pemuda Katolik (yang masih aktif bergerak) ini
dikomandani oleh Y.Suwalji. Balanya banyak, antara lain yang masih ingat saya sebutkan:
Sudarta (Bacira), Antonius Sunarta (Kotabaru), Pulung (Kotabaru), Kris Susetya
(Kotabaru), Sudarta Gandung (Minomartani), Jatmika (Jetis), Wahyu Susanta
(Kumetiran), Sunarta (Kulon Progo), PC.Subiya (Kulon Progo), Suharta (Gamping)
Gana (Gamping), dan masih banyak lagi.
Saat saya sebagai Ketua Komisi PK3, mereka saya
fasilitasi unutk pertemuan-pertemuan. Sebenarnya itu apa masuk lingkup PK3 atau
bukan saya tidak rewes, saya hanya melihat bahwa itu penting untuk keamanan
gereja, dan belum terkoordinir. Mereka telah mencurahkan pikiran dan tenaga untuk
kepentingan gereja di Kevikepan DIY, itu saja. Pasukan Rewo-rewo lalu lebih
terkoordinir, setiap ada pertemuan PK3 memfasilitasi.
Dari kiri: Wahyu Susanta, Y.Suwalji dan Y.Edu Nugraha
andalan pasukan rewo-rewo
Kalau menjelang natal dan paskah kami koordinasi
dengan Polda DIY untuk pengaturan keamanan hari besar natal dan paskah. Kami
undang perwakilan paroki-paroki, supaya mengirimkan perwakilannya untuk
membentuk seksi keamanan di setiap paroki. Kami bentuk dengan sebutan bunga,
misalnya mawar, untuk markas pusat di Kiduloji, dan aster (asisten territorial)
untuk kabupaten dan kota. Kami di markas, memegang daftar telpon gereja-gereja,
susteran, bruderan dan rumah sakit.
Kami buat SOP (standar operasi prosedur) dan dibagikan kepada perwakilan-perwakilan paroki. Tentu disesuaikan dengan kondisi dan situasi masing-masing paroki. Kami menentukan standar khusus untuk gereja-gereja yang di tepi jalan besar. Karena pengacauan gereja yang di tepi jalan sangat mudah. Mereka memakai cara aksi dan lari. Maka seperti Kalasan, Pugeran, Banteng, Pakem, Klepu, Nanggulan, Wonosari, Kotabaru, mesti ada perhitungan khusus. Sampai sekarang saya melihat di banyak paroki SOP itu masih dipakai oleh Pamja-pamja (bersambung)
Posting Komentar untuk "Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (7)"