Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (4)

Modul pendidikan politik diterbitkan oleh Komisi Kerawam KWI 

PK4AS (Penghubung Karya Kerasulan kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang) pada waktu dipegang Rama R.Sugihartanta, Pr solid. Hubungan dengan FMKI dan Ormas-ormas Katolik mesra. Setiap kali PK4AS mengundang PK3 Kevikepan, FMKI, dan Ormas-ormas Katolik, serta tokoh kemasyarakatan. Wanita Katolik Jateng/DIY, Pemuda Katolik Jateng/DIY, ISKA Jateng/DIY, PMKRI Semarang/Yogyakarta serta, FMKI Jateng/DIY.

Dalam konteks Kerasulan Awam Regio Jawa, PK4AS biasanya menjadi rujukan keuskupan lain. Demikian juga dalam hal pendidikan politik umat, PK4AS (termasuk PK3 Kevikepan), menjadi rujukan. Bahkan modul pendidikan politik dipercayakan digarap oleh PK3 Keuskupan Agung Semarang. Maka rama R.Sugihartanta, Pr, J.C.Tukiman Taruna Sayoga, Andreas Pandiangan,  mbak Yuli,  mengundang PK3 Kevikepan DIY, Kedu, Semarang dan Surakarta. Kemudian dipilih siapa-siapa untuk merumuskan modul pendidikan politik. (Maaf tidak komplit saya sebutkan, sebagian nama lupa)  Ada, YB.Wiyanjono, R.Sigit Widiarta, Ignas Suryadi, JC.Tukiman Taruna, Andreas Pandiangan, saya, dlnya.

Pertemuan tidak hanya sekali dan harus menginap, salah satunya di Pangesti Wening Ambarawa. Waktu itu Andreas Pandiangan mengatakan “bapak-bapak, seandainya nanti modul disetujui di Regio Jawa, dan diterbitkan atas nama Kerawam KWI, bapak-bapak rela tidak?” Kami semua menjawab “rela”. “Itu berarti nama-nama bapak-bapak tidak dicantumkan sebagai penulis” . Iya tetap “rela”. Dan bener modul-modul itu diterbitkan oleh Kerawam KWI. Ada 2 buku yang diterbitkan dengan judul “KERASULAN POLITIK, Panggilan dan Perutusan Umat Katolik”, dan “MODUL Pendidikan Politik Umat Katolik”. Buku diedarkan kepada Komisi-komisi Kerasulan Keuskupan-keuskupan dan sah untuk pendidikan politik umat. Buku terbit tahun 2013,persis satu tahun menjelang pemilu 2014.

Menjelang pemilu 2014, kami masing-masing Kevikepan mempersiapkan  pendidikan politik umat. Fokus pendidikan adalah memilih calon yang baik, dan menghindari money politik. Kami di Yogyakarta mengumpulkan  FMKI, Wanita Katolik, Pemuda Katolik, PMKRI (VPI belum lahir), dan tokoh-tokoh pemikir politik seperti Hary Cahyo, G.Sri Nurhartanta, Surya Adipramono, sehingga kami membuat 5 tim yang siap terjun ke paroki-paroki untuk melaksanakan pendidikan politik. Masing-masing tim bertugas di wilayah yang sudah ditentukan, Gunung Kidul, Bantul, Yogyakarta, Sleman dan Kulon Progo.

Kami juga mengumpulkan para calon  anggota legislatif dari berbagai partai. Kepada mereka dikatakan bahwa kita harus berangkat dari satu iman yang sama yaitu Katolik, meski partai berbeda. Harus sadar bahwa mereka tidak akan semua jadi anggora legeslatif. Jika dalam satu dapil ada beberapa orang-orang Katolik mesti harus dipilih, mana yang harus didukung oleh umat Katolik supaya jadi. Karena kalau umat Katolik harus dibagi-bagi pasti suaranya sia-sia, dan tidak akan signifikan mendukung. Maka perlu dipertimbangkan secara bersama-sama. Ada yang bisa memaklumi ada yang tidak karena merasa didukung dan mampu.

Tentu itu karena perjuangan bersama, kalau pada waktu itu berhasil menembus DPR Pusat, seorang perempuan dan katolik lagi, M.Y.Esti Wijayati. Selama ini 8 anggota DPR Pusat dari dapil DIY, belum pernah ada yang Katolik. Untuk daerah pemilihan propinsi, kota dan kabupaten juga muncul orang-orang Katolik (bersambung)

  

Posting Komentar untuk "Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (4)"