
Modul pendidikan politik diterbitkan oleh Komisi Kerawam KWI
PK4AS (Penghubung Karya
Kerasulan kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang) pada waktu dipegang Rama
R.Sugihartanta, Pr solid. Hubungan dengan FMKI dan Ormas-ormas Katolik mesra.
Setiap kali PK4AS mengundang PK3 Kevikepan, FMKI, dan Ormas-ormas Katolik,
serta tokoh kemasyarakatan. Wanita Katolik Jateng/DIY, Pemuda Katolik Jateng/DIY,
ISKA Jateng/DIY, PMKRI Semarang/Yogyakarta serta, FMKI Jateng/DIY.
Dalam konteks Kerasulan
Awam Regio Jawa, PK4AS biasanya menjadi rujukan keuskupan lain. Demikian juga dalam
hal pendidikan politik umat, PK4AS (termasuk PK3 Kevikepan), menjadi rujukan.
Bahkan modul pendidikan politik dipercayakan digarap oleh PK3 Keuskupan Agung
Semarang. Maka rama R.Sugihartanta, Pr, J.C.Tukiman Taruna Sayoga, Andreas
Pandiangan, mbak Yuli, mengundang PK3 Kevikepan DIY, Kedu, Semarang
dan Surakarta. Kemudian dipilih siapa-siapa untuk merumuskan modul pendidikan
politik. (Maaf tidak komplit saya sebutkan, sebagian nama lupa) Ada, YB.Wiyanjono, R.Sigit Widiarta, Ignas
Suryadi, JC.Tukiman Taruna, Andreas Pandiangan, saya, dlnya.
Pertemuan tidak hanya
sekali dan harus menginap, salah satunya di Pangesti Wening Ambarawa. Waktu itu
Andreas Pandiangan mengatakan “bapak-bapak, seandainya nanti modul disetujui di
Regio Jawa, dan diterbitkan atas nama Kerawam KWI, bapak-bapak rela tidak?”
Kami semua menjawab “rela”. “Itu berarti nama-nama bapak-bapak tidak
dicantumkan sebagai penulis” . Iya tetap “rela”. Dan bener modul-modul itu
diterbitkan oleh Kerawam KWI. Ada 2 buku yang diterbitkan dengan judul “KERASULAN
POLITIK, Panggilan dan Perutusan Umat Katolik”, dan “MODUL Pendidikan Politik
Umat Katolik”. Buku diedarkan kepada Komisi-komisi Kerasulan
Keuskupan-keuskupan dan sah untuk pendidikan politik umat. Buku terbit tahun
2013,persis satu tahun menjelang pemilu 2014.
Menjelang pemilu 2014,
kami masing-masing Kevikepan mempersiapkan
pendidikan politik umat. Fokus pendidikan adalah memilih calon yang
baik, dan menghindari money politik. Kami di Yogyakarta mengumpulkan FMKI, Wanita Katolik, Pemuda Katolik, PMKRI
(VPI belum lahir), dan tokoh-tokoh pemikir politik seperti Hary Cahyo, G.Sri
Nurhartanta, Surya Adipramono, sehingga kami membuat 5 tim yang siap terjun ke
paroki-paroki untuk melaksanakan pendidikan politik. Masing-masing tim bertugas
di wilayah yang sudah ditentukan, Gunung Kidul, Bantul, Yogyakarta, Sleman dan
Kulon Progo.
Kami juga mengumpulkan
para calon anggota legislatif dari
berbagai partai. Kepada mereka dikatakan bahwa kita harus berangkat dari satu
iman yang sama yaitu Katolik, meski partai berbeda. Harus sadar bahwa mereka
tidak akan semua jadi anggora legeslatif. Jika dalam satu dapil ada beberapa
orang-orang Katolik mesti harus dipilih, mana yang harus didukung oleh umat
Katolik supaya jadi. Karena kalau umat Katolik harus dibagi-bagi pasti suaranya
sia-sia, dan tidak akan signifikan mendukung. Maka perlu dipertimbangkan secara
bersama-sama. Ada yang bisa memaklumi ada yang tidak karena merasa didukung dan
mampu.
Tentu itu karena
perjuangan bersama, kalau pada waktu itu berhasil menembus DPR Pusat, seorang
perempuan dan katolik lagi, M.Y.Esti Wijayati. Selama ini 8 anggota DPR Pusat
dari dapil DIY, belum pernah ada yang Katolik. Untuk daerah pemilihan propinsi,
kota dan kabupaten juga muncul orang-orang Katolik (bersambung)
Posting Komentar untuk "Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (4)"