MENGIKUTI JEJAK GUBEERNUR PERTAMA DAYAK

Andreas Chandra Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Kekayaan alam yang dimiliki Kalimantan Barat begitu melimpah, seolah tak pernah habis untuk diceritakan. Hutan yang hijau, tanah yang subur, serta sumber daya alam yang luar biasa menjadi daya tarik bagi para penguasa dan investor. Mereka datang, membuka usaha, dan menjalankan roda bisnis demi keuntungan yang sebesar-besarnya.

            Namun, pernahkah kita sebagai masyarakat lokal merenung sejenak? Kekayaan yang seharusnya menjadi milik kita bersama justru perlahan dibawa pergi, meninggalkan kampung halaman. Diangkut, diekspor, dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pasar global serta menunjang perekonomian pihak lain, sementara kita hanya menjadi penonton di tanah sendiri.

            Sebagai putra Dayak, ada kegelisahan yang tak dapat disembunyikan. Hati ini terasa sesak melihat kondisi hari ini. Di tengah kekayaan alam yang luar biasa, justru masyarakat sekitar hanya mewarisi dampak kerusakan yang ditinggalkan. Hutan rusak, tanah kehilangan kesuburan, dan harapan perlahan memudar. Sementara itu, para penguasa dan kaum kapitalis terus melaju tanpa menoleh ke belakang.

            Di titik ini, muncul pertanyaan yang mengguncang batin para pemuda Dayak:
Apakah kami masih berhak untuk bermimpi besar?
Ataukah mimpi itu harus kami kubur dalam-dalam bersama keterbatasan yang menjerat kehidupan kami hari ini?

            Namun, di tengah segala keterbatasan, harapan itu belum padam. Andreas Chandra, seorang putra Dayak dari Air Upas, adalah satu dari sekian banyak anak muda yang berani menjaga mimpinya tetap hidup. Ia memiliki cita-cita besar: menjadi seorang pengacara hebat di masa depan. Hari ini, ia menapaki langkahnya dengan berkuliah di Universitas Atma Jaya, Fakultas Hukum. 

            Berasal dari kampung terpencil tidak pernah menghentikan langkahnya. Justru, keterbatasan itu menjadi bahan bakar untuk terus melangkah lebih jauh.

            Baginya, mimpi bukan sekadar angan-angan. Mimpi adalah cahaya—terang yang mampu menuntun keluar dari kegelapan panjang. Mimpi adalah harapan yang dapat mengubah nasib manusia menjadi lebih bermartabat, lebih berharga, dan lebih berarti.

            Ia, ingin mematahkan stigma yang selama ini melekat di masyarakat: bahwa orang Dayak tidak boleh bermimpi besar. Ia percaya, setiap anak Dayak memiliki hak yang sama untuk berdiri sejajar, bahkan melampaui batas yang selama ini dianggap mustahil.

            Perjuangan tidak pernah mudah. Namun, semangat itu tidak boleh padam. Pemuda Dayak harus berani bermimpi besar. Jangan pernah takut untuk menggantungkan mimpi setinggi langit. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ir. Soekarno,
"Berikan aku seribu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

            Kata-kata itu bukan sekadar kutipan, melainkan api yang harus terus menyala dalam jiwa setiap pemuda.

            Pemuda Dayak harus berani keluar dari zona nyaman. Harus siap bertarung di medan kehidupan yang keras, dengan keyakinan bahwa kita mampu bersaing secara sehat dengan siapa pun di negeri ini. Kita memiliki contoh nyata, seperti Oevaang Oeray—gubernur Dayak pertama di Kalimantan Barat yang telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menjadi besar Oevang Oeray adalah Tokoh yang mempeerjuangkan Kesejahteran Masyarakat Kalimantan melalui jalur pendidikan dan jalur Politik berbagai rangkuman yang mencatat sepak teerjang tokoh dayak ini dalam buku para penjaga terakhir bung karno oevang oreay  bekerja sebagai seorang guru dikkampungnya kemudian diangkat sebagai pns

Dalam perjalanya  Oeray ingin memperbaiki nasib masyrakat dayak  yang hidup dalam keterbelakangan dan diskriminasi, meski beruntung bisa mengenyam pendidikan Oeray sempat mengalmi diskriminasi karena hanya boleh masuk kedalam sekolah gereja katolik

Pada tahun 1941 dia mengirimkan surat kepada para guru-guru katolik yang sedang retret di sangay , surat itu mengajar semua guru untuk memilirkan perbaikan  nasib masyrakat dayak dan melalui surat itu merupakan titik awal perbuahan serta perjuangan nya.

            Dan percayalah, itu baru satu dari sekian banyak tokoh hebat yang lahir dari tanah Dayak.             Akhirnya, pesan ini sederhana namun mendalam:

Beranilah bermimpi menjadi orang hebat. Hadapi setiap tantangan dengan kepala tegak dan hati yang tenang. Kita adalah bangsa yang kuat, bermental petarung, dan tidak mudah menyerah.

            Mari, sebagai generasi muda, kita bangkit. Kita perjuangkan nama besar kita. Kita mulai dari diri sendiri, dari lingkungan, dari desa, hingga suatu hari nanti kita mampu berdiri di tingkat nasional—bahkan dunia.

Karena sejatinya, mimpi tidak pernah mengenal batas.
Dan kita—anak-anak Dayak—tidak pernah ditakdirkan untuk kalah.

 

Posting Komentar untuk "MENGIKUTI JEJAK GUBEERNUR PERTAMA DAYAK "