![]() |
| Rama Ag.Daryanta, SJ, Pastor Mahasiswa DIY (kiri) dan Rama Y.Sunaryadi, Pr Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat (kanan), memimpin Perayaan Ekaristi Pembukaan Semester Baru ISI Yogyakarta |
“Saat ini kita hidup dalam budaya yang sangat banyak cermin”, demikian Rama Daryanta, SJ mengawali khotbahnya dalam Misa Pembukaan Semester Baru KMK ISI Yogyakarta, Jumat 11 September 2026 di gedung Arena Teater. Dimana-mana ada cermin; di kamar, di lift, di toilet, di kafe dan resto ada juga cermin. Cermin bisa berfungsi macam-macam, tetapi cermin fungsi utamanya adalah untuk melihat diri sendiri. Dengan cermin-cermin itu kita bisa semakin melihat diri sendiri.
Pertanyaan lebih dalam; apakah
semakin sering kita melihat diri, kita semakin mengenal diri? Karena melihat
diri tidak selalu berarti mengenal diri. Kita sangat tahu bagaimana wajah kita
terihat di cermin, tetapi tidak tahu mengapa kita jadi mudah marah. Kita tahu
angle terbaik untuk foto, tetapi tidak tahu mengapa kita sulit menerima kritik.
Kita tahu bagaimana membuat feed terlihat baik dan mendapat likes, tetapi tidak
tahu bagaimana hubungan kita dengan teman yang sebenarnya. Kita tahu bagaimana
membuat diri terlihat good, tetapi belum tentu tahu apakah kita sedang menjadi
orang yang baik?
Dalam bacaan Injil tadi dikatakan
“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di
dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui”? Bacaa ini mau mengatakan kepada
kita; bercerminlah lebih dalam, bukan sekedar selfie-melihat diri tapi juga
mengenal diri. Mari kita menggali lebih dalam dari makna sebuah cermin untuk
melihat penampilan diri ke “cermin” yang bisa membantu kita mengenali diri,
yaitu “komunitas”. Komunitas itu bica macam-macam. Dalam konteks ini adalah
sebagai komunitas dosen – mahasisawa katolik – karyawan dan KMK ISI Yogyakarta.
Komunitas sebenarnya adalah cermin. Ketika kita hidup bersama orang lain, kita
mulai melihat siapa diri kita sebenarnya.
![]() |
| Orkes dari mahasiswa katolik ISI Yogyakarta mengiringi jalannya Perayaan Ekaristi |
Kita baru tahu ternyata kita mudah tersinggung ketika ada teman yang mengkritik. Kita baru sadar ternyata kita ingin selalu didengarkan tetapi sulit mendengarkan. Kita baru sadar ternyata kita ingin diterima, tetapi sulit menerima orang yang berbeda. Kita ingin komunitas menjadi tempat yang nyaman bagi kita, tetapi kadang kita sendiri justru membuat orang lain tidak nyaman. Maka komunitas sebenarnya adalah tempat kita menemukan balok dalam mata kita. Komunitas bisa menjadi cermin yang membantu kita untuk mengenali diri lebih dalam.
Hadir juga dalam pembukaan semester baru ini Rama Y.Sunaryadi, Pr, Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat. Misa dihadiri oleh sekitar 200 mahasiswa katolik di ISI Yogyakarta, dosen dan karyawan katolik.


Posting Komentar untuk "Jadikan Komunitas Sebagai Cermin"