Rama Budya sejatinya komunikator

Rama Al.Budyapranata, Pr sejatinya komunikator

Saya mengenal Rama Budya di Paroki Bintaran masih sering memakai celana pendek, jadi kadang pakai celana panjang kadang pakai celana pendek. Rama Budya dengan Honda 90 Z, kala itu sering mengajak mengajar agama di daerah Mantub, Kotagede dan sekitarnya. Rama masih muda kalau tidak salah sejak tahbisan  beliau diperbantukan di Bintaran, dengan Rama Blasius Pujaraharja (Mgr, Uskup Emiritus Ketapang), sebagai Rama Paroki. Sebagai rama pembantu di Paroki Bintaran Rama Budya juga disampiri tugas menjadi Delegatus Komunikkasi Sosial untuk Kevikepan DIY merangkap koordinator di Keuskupan Agung Semarang. Saya lupa yang di Kevikepan Semarang dan Kevikepan Kedu, yang kuingat ada juga Delegatus Kopmunikasi Sosial di Kevikepan Surakarta, yaitu Rama PC.Martoyo.

Rama Budya dilahirkan di Yogyakarta tahun 1943, lulus dari Seminari Menengah Mertoyudan 1962. Kemudian tahun 1964-1971 studi Filsafat Theologi di Fakultas Theologi Wedhabakti Kentungan Yogyakarta, dan dirahbiskan menjadi Imam Deosesan Keuskupan Agung Semarang 21 Desember 1971. Karya pastoralnya dimulai menjadi pastor pembandu di Paroki Bintaran dan Delegatus Komunikasi Sosial 1972-1991. Di Komsos itulah  rama Budya melayani siaran radio, televisi, media pers, multi media training, dan pembinaan persiapan perkawinan.

Karya selanjutnya di Paroki Baturetno Wonogiri, Paroki St.Yusup Mertoyudan, Paroki Kristus Raja Ungaran, menjadi misionaris di Keuskupan Paramaribo Suriname tahun 2000-2003. Kemudian bertugas di Paroki Purbalingga Keuskupan Purwokerto, Paroki Kebon Dalem Semarang, lalu menjalani tahun sabatikel, tinggal di Pastoran Sanjaya Muntilan sebagai penulis. Melanjutkan karya di Paroki Jumapolo, kemudian di Paroki Sambiroto Semarang. Beberapa buku peninggalan beliau: Membangun Untuk Apa? - mengulas secara sederhana Konsili Vattkan II; Sembuh Tanpa Obat; Etika Praktis,  

Sebagai pastor pembantu paroki dan Delegatus Komunikasi Sosial Rama Budya lebih banyak tugasnya di Komsos. Di paroki Rama Budya mengembangkan Komsos Paroki dengan mengembangkan majalah paroki yang Bernama LOBIN (Lonceng Bintaran), tidak tahu persis kapan LOBIN terbit sebelum atau pada saat Rama Budya, tetapi LOBIN eksis sebagai majalah paroki. Sampai sekarang teman-teman LOBIN masih sering berkumpul meskipun majalah sudah tidak ada. Ada rama penerus yang mendampingi majalah LOBIN yang masih setia berkumpul dengan crewnya yaitu Rama R.Hadiyanto dan Rama V.Kirjito. Kumpul terakhir pada Minggu 2 Juli 2023, di tempat mbak Andra, sekaligus 100 hari mas Agus crew LOBIN yang meninggal.

Sebagai Delegatus Komunikasi Sosial Rama Budya mengembangkan pelayanan di Media Komunikasi Sosial, Sanggar, Multi Media Training Center, Kursus Persiapan Berkeluarga, Kunjungan Keluarga.

1.       Pelayanan Media Komunikasi Sosial

Pelayanan media komunikasi ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu pelayanan siaran mimbar agama di televisi, radio dan pers. Pelayanan mimbar agama di televisi pernah dilaksanakan 2 x sebulan dan 1 x sebulan. Bentuknya bisa sandiwara televisi, mimbar renungan, campuran mimbar fragmen dan lagu Rohani. Pokoknya siaran dibuat menarik bagi pirsawan. Siaran mimbar televisi melibatkan paroki-paroki, anak-anak muda (khususnya di Paroki Bintaran) untuk peran serta. Alhasil banyak yang direkrut menjadi penyiar televisi Yogyakarta. Anak-anak muda senang sekali, diajak tanpa bayaran, bahkan mereka cucul demi pelayanan mimbar agama katolik. Pelayanan kedua adalah mimbar agama katolik di radio. Waktu itu ada RRI dan Radio Swasta. Renungan ada yang 15 menit ada yang 30 menit. Untuk memperlancar itu semua, Rama Budya mengembangkan studio rekaman yang ada di Bintaran (tidak tahu nasibnya sekarang). Studio itu dibangun dengan uang yang tidak sedikit. Studio lengkap dan memenuhi standard untuk rekaman suara televisi maupun radio. Ketiga adalah pelayanan media pers, dengan menulis renungan di media surat kabar. Waktu itu Rama Budya menulis setiap minggunya di Haria Berita Nasional, dan saya sebagai stafnya menulis setiap bulannya di Buletin Sosial Surabaya. Ada 3 penerbitan di Yogyakarta, yaitu Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional dan Masa Kini. Untuk media pers Rama Budya mengumpulkan penulis dan wartawan Katolik di setiap Hari Komunikasi Sosial.

2.       Sanggar Swaratama

Rama Budya juga mengembangkan Sanggar Swaratama untuk mengembangkan dunia pentas (teater dan lainnya). Dua pentas yang mengesan di anak-anak yang mendukungnya waktu itu adalah pentas Pangera Bintaran dan Naratama.

3.      

Rama Al.Budyapranata, Pr (baris depan no.3 dari kiri) beserta para rama yang pernah tugas
di Paroki St.Yusup Bintaran ketika penerimaan Sakramen Krisma dan HUT Gereja St,Yusup Bintaran  ke 80 tahun 2014.

Multi Media Training Center

Bagian ini merupakan bagian terpenting menurut Rama Budya, karena mencari bibit-bibit komunikator dan pewarta sabda di media komunikasi. Ada tiga macam yaitu training untuk programa radio, program televisi dan jurnalistik. Sebenarnya program ini sudah klop dengan sarananya. Program radio dan televisi ada tempat praktek dan jadi siaran yang bisa ditayangkan. Hanya untuk media pers para peserta harus menyalurkan sendiri. Tetapi ada waktu itu ada tempat intuk menyalurkan tulisan yaitu di Majalah Peraba dan Hidup.

4.       Kursus Persiapan Perkawinan

Kursus Persiapan Perkawinan itu pada awalnya untuk 7 paroki di Kota Yogyakarta. Diadakan secara bergiliran dari paroki ke paroki. Paroki Bintaran, Kotabaru, Baciro, Jetis, Kemetiran, Pugeran dan Kiduloji. Kursus dilaksanakan  5 sore dengan materi-materi yang disiapkan. Dibentuk bersama waktu itu Komsos, RS.Pantirapih, Sanata Dharma, Akademi Kewanitaan Tarakanita dan Bimas Katolik. Maka narasumber diambilkan dari masing-masing Lembaga. Kesehatan dari Pantirapih, prosedur perkawinan  dari Bimas Katolik, Psikologi Keluarga dari AKS Tarakanita, ekonomi dari Sanata Dharma. Setelah berjalan bergiliran, lalu menetap dan dibuka untuk Kevikepan DIY. Pernah menetap di AKS Tarakanita, Kiduloji, Bintartan dan terakhir di OMI Condongcatur. Kursus Perkawianan ini berakhir ketika Covid-19, dan sekarang kursus perkawinan sudah diselenggarakan di masing-masing paroki.

5.       Kursus Kunjungan Keluarga

Kunjungan keluarga juga menjadi perhatian Rama Budya, maka beliau juga mengembangkan kunjungan keluarga. Sayang kunjungan keluarga ini tidak berlanjut.  Ada modul untuk kunjungan keluarga yang diterbitkan untuk belajar berkunjung.

Gereja Muda

Rama Budya juga dekat dengan anak muda, pada waktu itu beliau mengadakan ekaristi kaum muda, dengan lagu-lagu khas anak muda. Buku Nyanyian Gereja Muda dicetak (sayang nyari arsipnya gak ketemu). 

Dari cerita singkat ini, saya mau menarik benang merah, bahwa Rama Budya adalah sejatinya komunikator. Beliau menjadi pewarta sabda di media sosial (teve, radio dan pers) sejak saya kenal sampai beliau wafat. Ketika ia berpindah tugas, baik ke Purwokerto dan Suriname sekalipun, masih menggeluti pewartaan dengan media khususnya video dan penerbitan buku. Keprihatinan beliau adalah ketika harus mencetak komunikator-komunikator melalui Multi Media Training Center. Beliau mengungkapan betapa kemajuan tehnologi komunikasi yang akan datang, dan itu harus “ditangkap” oleh gereja. Kalau tidak kita akan tergilas oleh arus komunikasi yang deras, menembus tembok-tembok tebal.

Selamat jalan Rama Al.Budyapranata, Pr ke Rumah Bapa, menjadi pendoa bagi kami.

A.Gandung Sukaryadi

 

 

Kursus Perkawinan

Kursus Kunjungan Keluarga

 

Posting Komentar untuk "Rama Budya sejatinya komunikator"