99 Tahun Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran

Upacara di depan candi Hati Kudus Tuhan Yesus

Dengan menyitir lagu aku diberkati, Rama Wondo, Vikep Yogyakarta Barat dalam khotbahnya bahwa berkah itu datang dari Alah dan perlu disambut. Kita mesti menjadi berkah bagi siapapun. Para rama ini yang di depan, sesudah perayaan Ekaristi, juga harus menjadi berkah, mungkin ada yang datang berkonsultasi. Anda semua juga mesti menjadi berkah, bagi siapapun, ketemu dengan senyum. Demikian disampaikan dalam Perayaan Ekaris memperingati 99 tahun Candi Hati Kudus Tuhan  Yesus Ganjuran, Rabu 11 Februari 2026.  

Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dibangun sebagai monumen syukur keluarga perintis Gereja Ganjuran. Mereka berdevosi kepada Hati Kudus Yesus dan sukses dalam usahanya, yaitu Pabrik Gula Gondang Lipuro. Monumen pengakuan iman keluarga ini merupakan wujud dari semangat cinta kasih Hati Kudus Tuhan Yesus. Pembangunan candi itu merupakan salah satu cita-cita keluarga Schmutzer untuk mengenang penyertaan dan belas kasih Hati Kudus Tuhan Yesus yang berlangsung sepanjang segala abad, dan tak berkesudahan

Bangunan candi diharapkan mampu menarik segenap orang untuk diberkati Yesus Kristus yang selalu meraja dengan hati kudus-Nya. Oleh karena itu, dipilih bangunan candi yang menjadi tempat  pemujaan Orang Jawa pada saat itu. Dalam ditahtakan arca Kristus Raja dalam busana kebesaran seorang raja Jawa dengan tangan kanan menunjuk Hati Kudus-Nya yang terbuka dan siap diserahkan kepada siapa saja yang memohonnya.

Selain arca yang dipasang di dalam candi dipahat juga arca yang sama, namun dalam ukuran kecil (tingginya sekitar 75 cm). Patung tersebut dimasukkan dalam perigi bersama dengan prasasti kemudian ditanam di dasar candi. Tepatnya di bawah arca yang kelihatan saat ini. Harapannya, seandainya suatu saat candi yang dibangun itu runtuh bersama arca Kristus Raja yang ada terpasang di dalam candi, masih ada satu yang masih utuh, yakni yang ada jauh di dasar candi.

Perayaan Ekaristi 99 tahun candi Hati Kudus Tuhan Yesus

Berdasarkan prasasti yang ada di kaki depan candi dikatakan bahwa pada 26 Desember 1927 seluruh keluarga berkumpul untuk mengucapkan syukur, karena setelah 60 tahun usaha perkebunan tebu yang selamat dari krisis ekonomi dunia, maka didirikan monumen syukur sebagai tanda syukur atas kesuksesan dan rahmat ilahi yang tercurah bagi keluarga.

Pada  tanggal 26 Desember 1927 itu pula, dilakukan peletakan batu pertama candi dilakukan oleh Mgr.A.van Velsen SJ (Uskup Batavia). Pada saat itu dilakukan pemberkatan patung Hati Kudus kecil yang akan ditanam di dalam candi. Pada kesempatan itu Mgr. A. van Velsen SJ minta agar candi dijadikan monumen Gereja Katolik secara nasional sehingga di hadapan Kristus Raja dimohon perlindungan bagi umat-Nya (di seluruh tanah Jawa).

Pada 11 Februari 1930 Mgr. A. van Velsen SJ memberkati Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Pada saat itu tanah Jawa (Bumi Nusantara) dipersembahkan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus. Penyerahan tanah Jawa kepada HKTY merupakan tradisi gereja lama di Negara Eropa dengan meletakan arca Hati Kudus Tuhan Yesus di tengah keluarga. Hal itu berdasarkan Devosi Hati Kudus Tuhan Yesus yang merajai hati mereka dan mentahtakan arca Hati Kudus Tuhan Yesus di tengah keluarga

Rama Vikep Yogyakarta Barat "ngedhuk" tumpeng lalu diserahkan kepada salah satu
ke 99 anak remaja yang membawa lilin, sebagai simbol pengharapan

Oleh karena itu, Mgr. A. van Velsen SJ memperbarui atau mengaktualisasikan hal itu di Ganjuran supaya  merajai  tanah Jawa (menurut Romo Utomo dimaknai sebagai nusantara saat ini). Mgr. A. van Velsen SJ mendeklarasikan bahwa Candi Ganjuran memiliki makna yang sangat luas. Candi Ganjuran sebagai monumen syukur umat Se-nusantara, sedangkan Gua Maria di Sendangsono sebagai monumen kelahiran umat pertama di Jawa. Saat itu, Pulau Jawa sudah dianggap keseluruhan Gereja lokal.

  

1 komentar untuk "99 Tahun Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran"