Derita Petani Nikmat Kita (2)

Hamparan pertanian yang nampak subur (foto istimewa)

Ada bererapa tanggapan secara japri atas tulisan saya “derita petani nikmat kita”. Okey nanti akan dibahas kemudian. Saya sendiri lalu ingat lagu Dongenge Tiyang Desa ciptaan Gesang di Maestro Keroncong, yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Waljinah. Syairnya seperti berikut ini:

Sinten purun kula dongengi, Dongenge sedulur ndesa. Sugih sawah lan sugih pari


Ayem ing ati ora murka, Ageng labuhe dateng negari, Rupa bandha lan rupa arta

Jaman gerilnya ing nguni, Tiyang kutha ngungsi teng ndesa

 

Pun Kakang lan Mbakyu le nampi, Lair batin suka lan lila. Njamin papan lan njamin tedhi

Luwung senadyan cara ndesa, Pocape nalika kuwi. Sapa wonge ora rumangsa

Terimakasih batine muni, Suk yen aman, walesku apa

 

Tutuge le ndongeng puniki, Indonesia wus mardhika. Dikantheni tatanan adi

Ngajeni mring pada manungsa, Ature le ndongeng puniki. Yen Kakang lan Mbakyu ten kutha

Welinge aja nganti lali, lan aja disia-sia

 Terjemahannya ke Bahasa Indonesia seperti ini: Siapa mau aku akan cerita, ceritanya saudara-saudara desa. Kaya sawah dan kaya padi. Hidupnya tentram dan hati tidak murka (serakah), Besar jasanya kepada negara, berupa harta benda dan uang. Ketika jaman gerilya dulu, orang-orang kota mengungsi ke desa.

Bapak dan ibu yang menerima, suka relacsecara lahir batin, menjamin papan dan makan, meski ala desa. Lumayan meskipun cara desa. Siapa orang yang tidak merasa terima kasih? Namun juga bertanya dalam hatinya, besuk kalau sudah aman (merdeka) apa balasanku?

Terusnya cerita ini, Indonesia sudah merdeka, disertai tatanan yang agung, menghormati sesama manusia. Kata yang cerita ini, kalau bapak-ibu mau ke kota, pesannya jangan sampai lupa dan jangan dihina dan disia-siakan.  

Lagu keroncong ini memang mau mengingatkan kepada kita bahwa para petani di jaman perjuangan kemerdekaan memang seperti ini. Mereka menjadi tumpangan bagi para pejuang kemerdekaan dan sekaligus mereka menyediakan  makan dan perbekalan perang. Ketika kita sudah merdeka, para pejuang kembali ke kota. Ucapan terima kasih saja sebagai balasannya.

Meskipun kemerdekaan disertai dengan undang-undang yang baik dan agung, menghormati sesama manusia. Rumusan Pancasila adalah tatangan agung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tetapi senyatanya kita hidup dialam kemerdekaan ini, mereka (para petani) hidupnya sengsara dan disia-siakan beneran.

Hamparan padi yang indah (foto istimewa)

Tatanan adi (tatanan yang agung – Pancasila) rasanya sudah kurang dihormati lagi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak diperhatikan dan tidak dijalankan.  Tatanan hukum diobrak-abrik sekehendaknya. Korupsi, kolosi dan nepotisme juga ada dimana-mana. Intoleransi, ketidakadilan, kekerasan aparat, penjualan orang, dinasti politik dlnya juga tidak kunjung berhenti.

Pak Tani dan mbok Tani tidak hanya disia-siakan di kota, didesanya juga disia-siakan. Bertani, membanting tulang, berperang melawan hama, dan berjuang supaya bisa panen, di jalan yang becek. Sementara orang-orang kota naik kendaraan mulus, dijalan yang mulus, setiap saat dapat fulus.

Posting Komentar untuk "Derita Petani Nikmat Kita (2)"