
Hamparan pertanian yang nampak subur (foto istimewa)
Ada bererapa tanggapan secara japri atas tulisan saya
“derita petani nikmat kita”. Okey nanti akan dibahas kemudian. Saya sendiri
lalu ingat lagu Dongenge Tiyang Desa ciptaan Gesang di Maestro
Keroncong, yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Waljinah. Syairnya seperti
berikut ini:
Sinten purun kula dongengi, Dongenge
sedulur ndesa. Sugih sawah lan sugih pari
Ayem ing ati ora murka, Ageng
labuhe dateng negari, Rupa bandha lan rupa arta
Jaman gerilnya ing nguni, Tiyang
kutha ngungsi teng ndesa
Pun Kakang lan Mbakyu le nampi,
Lair batin suka lan lila. Njamin papan lan njamin tedhi
Luwung senadyan cara ndesa, Pocape
nalika kuwi. Sapa wonge ora rumangsa
Terimakasih batine muni, Suk
yen aman, walesku apa
Tutuge le ndongeng puniki, Indonesia
wus mardhika. Dikantheni tatanan adi
Ngajeni mring pada manungsa, Ature
le ndongeng puniki. Yen Kakang lan Mbakyu ten kutha
Welinge aja nganti lali, lan
aja disia-sia
Bapak dan ibu yang menerima, suka
relacsecara lahir batin, menjamin papan dan makan, meski ala desa. Lumayan
meskipun cara desa. Siapa orang yang tidak merasa terima kasih? Namun juga
bertanya dalam hatinya, besuk kalau sudah aman (merdeka) apa balasanku?
Terusnya cerita ini, Indonesia
sudah merdeka, disertai tatanan yang agung, menghormati sesama manusia. Kata
yang cerita ini, kalau bapak-ibu mau ke kota, pesannya jangan sampai lupa dan
jangan dihina dan disia-siakan.
Lagu keroncong ini memang mau
mengingatkan kepada kita bahwa para petani di jaman perjuangan kemerdekaan
memang seperti ini. Mereka menjadi tumpangan bagi para pejuang kemerdekaan dan
sekaligus mereka menyediakan makan dan
perbekalan perang. Ketika kita sudah merdeka, para pejuang kembali ke kota.
Ucapan terima kasih saja sebagai balasannya.
Meskipun kemerdekaan disertai
dengan undang-undang yang baik dan agung, menghormati sesama manusia. Rumusan
Pancasila adalah tatangan agung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Tetapi senyatanya kita hidup dialam kemerdekaan ini, mereka (para
petani) hidupnya sengsara dan disia-siakan beneran.
![]() |
| Hamparan padi yang indah (foto istimewa) |
Tatanan adi (tatanan yang agung – Pancasila) rasanya sudah kurang dihormati lagi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak diperhatikan dan tidak dijalankan. Tatanan hukum diobrak-abrik sekehendaknya. Korupsi, kolosi dan nepotisme juga ada dimana-mana. Intoleransi, ketidakadilan, kekerasan aparat, penjualan orang, dinasti politik dlnya juga tidak kunjung berhenti.
Pak Tani dan mbok Tani tidak
hanya disia-siakan di kota, didesanya juga disia-siakan. Bertani, membanting
tulang, berperang melawan hama, dan berjuang supaya bisa panen, di jalan yang
becek. Sementara orang-orang kota naik kendaraan mulus, dijalan yang mulus,
setiap saat dapat fulus.

Posting Komentar untuk "Derita Petani Nikmat Kita (2)"