
Duduk di depan C.Ismulyadi (Gara Bimas Katolik) kiri dan
Petrus Eko Nugroho (Pendamping Pemuda Katolik) kanan
Kami di Bimas Katolik ini
ada Urusan Agama Katolik dan Urusan Pendidikan Agama Katolik. Urusan Pendidikan
kami ngurusi pendidikan Agama Katolik di sekolah-sekolah negeri. Ada Sekolah
Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menegah
Kejuruan. Terus terang masih kekurangan tenaga pendidikan Agama Katolik. Ada
Penyuluh Agama Katolik yang mempunyai tugas pembinaan pada kelompok-kelompok
bina. Ada di Lembaga Pemasyarakatan, Lembaga Rehabilitasi Narkotika, panti
asuhan, panti jompo, rumah-sakit dengan mengunjungi pasien-pasien dan
barangkali ada yang memerkukan minyak suci. Demikian dikatakan oleh C.Ismulyadi
Penyelenggara Bimas Katolik Sleman, dalam pertemuan audiensi dengan Pemuda
Katolik Komcab Sleman. Pertemuan audiensi tersebut pada Senin 23 Februari 2026,
bertempat di Kantor Kemenag Kab.Sleman.
Selanjutnya dikatakan
juga bahwa Bimas Katolik juga mendata Taman Doa dan Tempat Ibadat untuk
dicatat dan dimohonkan registrasi, agar Tempat-tempat doa dan tempat ibadat menjadi
lebih nyaman untuk berdoa, berziarah dan berkegiatan keagamaan. Kami siap dan
terbuka kerjasama atau kolaborasi, misalnya dari Pemuda Katolik mau
berpartisipasi sebagai pendidik Agama Katolik, atau juga Penyuluh Agama Katolik.
Para Penyuluh Agama Katolik kami dari berbagai latar belakang pendidikan, bukan
hanya dari pendidikan agama saja. Ada yang dari jurusan ekonomi, jurusan komunikasi,
administrasi negara dan sastra.
Pemuda Katolik Komcab
Sleman, berkunjung ke Bimas Katolik karena kepengurusan baru dibawah Dionisius
Katon. Dion ditemani beberapa pengurus lainnya, Justin GY, Juan, Bondan, Candra, Petrus Eko
Nugroho (pendamping) dan A.Gandung Sukaryadi (pendamping).
Dalam kesempatan tersebut
Gandung sebagai pendamping Pemuda Katolik dan pensiuan Kemenag berpesan kepada
semua. Saya senang melihat dinamika pagi ini. Memang penting kita bekerjasama
dan berkolaborasi. Kita tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat
sendirian. Harus bekerja bersama.
Para Penyuluh Agama Katolik hendaknya mempunyai bekal 3 ilmu setidaknya, yaitu agama, sosiologi dan psikologi. Yogyakarta saat ini mengalami krisis, bahwa 2 dari 3 orang terkena gangguan jiwa, dan dialami hampir usia remaja dan kuliah. Dicontohkan teman-teman yang masih kuliah. Kalau dia mengambil 18 SKS, kalau masing-masing 2 SKS sudah ada 9 mata kuliah. Kalau dalam satu minggu mendapat tugas semua, sudah 9 pekerjaan sendiri. Belum nanti kalau menunggu kiriman uang lambat, harus mikir makan apa tidak? Kiranya yang sekolah menengah bebannya hampir sama. Maka lebih banyak perhatian dari para penyuluh.
Posting Komentar untuk "Kolaborasi dan kerjasama"