![]() |
| Berfoto bersama setelah acara |
Purwakarta, 18 April 2026. – Suasana penuh kehangatan dan persaudaraan mewarnai perayaan Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 M yang diselenggarakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Purwakarta, Sabtu (18/4/2026) pukul 14.00 WIB, bertempat di Maya Datar Pemda Purwakarta.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan daerah dan tokoh lintas agama. Hadir Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Kerukunan dan Layanan Keagamaan, Pengawasan, dan Kerja Sama Luar Negeri, Gugun Gumilar, Ph.D, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, Kepala Kejaksaan Negeri Purwakarta Apsari Dewi, perwakilan Kementerian Agama Purwakarta Anang Suryana, dan Ketua FKUB Kabupaten Purwakarta Jhon Dien TH. Hadir pula tokoh lintas agama, di antaranya Supriyanto, Penyuluh Katolik Jimmy, Penyuluh Kristen Pendeta Maudi, Pendeta Hatorangan Situmorang, S.Th., M.A., Sila Linda dari umat Buddha, dan Bhante dari Kebun Persahabatan. Kehadiran unsur Forkopimda seperti Wakapolres Purwakarta dan Komandan Armed Purwakarta semakin memperkuat nuansa kebersamaan lintas sektor dalam kegiatan tersebut.
Ketua PHDI Kabupaten Purwakarta, I Komang Suprenata, dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Suci Nyepi merupakan momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan penyucian diri, baik lahir maupun batin. Tahun Baru Saka 1948 ini menjadi ajakan reflektif untuk memperbaharui kehidupan menuju keharmonisan yang lebih baik. Ia menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan upacara Melasti, Tawur Kesanga, dan pawai Ogoh-ogoh yang sarat makna spiritual sebagai simbol pengendalian diri dari unsur negatif. Puncaknya adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang meliputi: Amati Geni (tidak menyalakan api atau hawa nafsu); Amati Karya (tidak bekerja); Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan).
“Melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu diajak untuk berdiam diri, melakukan introspeksi, serta mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkapnya.
Sebagai penutup rangkaian Nyepi, Dharma Santi menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan, tidak hanya di internal umat Hindu, tetapi juga bersama seluruh elemen masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol kuat toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Purwakarta. Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, dalam kesempatan tersebut mengapresiasi terselenggaranya Dharma Santi yang dinilai mampu mempererat kebersamaan dan menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat.
“Perayaan Nyepi bukan hanya milik umat Hindu, tetapi menjadi inspirasi bagi kita semua untuk hidup damai, seimbang, dan saling menghormati,” ujarnya. Melalui Dharma Santi Nyepi ini, diharapkan semangat persatuan semakin tumbuh dan memperkokoh nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat. Purwakarta kembali menunjukkan dirinya sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antar umat beragama. (Joes)

Posting Komentar untuk "Catur Brata Penyepian"