![]() |
| Di tengah-tengah anak muda itu mengasyikkan |
Ketika Vox Populi Institut (VPI) muncul di Jakarta yang juga dibentuk para aktivis kemasyarakatan Katolik, kami di Yogyakarta merasa gembira. Karena mereka akan menjadi pusat study para aktivis di Jakarta. Menjadi pusat kajian kemasyarakatan yang berlandaskan iman Katolik. Keberadaannya menemani pusat studi serupa yang sudah muncul lebih dulu. Tidak ada masalah, pusat kajian kemasyarakatan banyak cabangnya. Bidang politikpun akan dikaji dari berbagai lembaga study tidak masalah.
Tetapi menjadi beda
ketika mereka mengubah menjadi menjadi Ormas Katolik, karena strukyur
kepengurusan pasti akan sampai daerah. Kami mempelajari visi misi yang ada
ternyata mirip-miriplah dengan apa yang ada di FMKI. Apa-apa yang sudah
dikerjakan FMKI akan juga dikerjakan. Maka pada waktu itu ketika rekan-rekan
VPI datang di Yogyakarta mau mendirikan cabangnya di DIY, kami mengatakan
seperti ini: “Silahkan melihat dulu dinamikan masyarakat dan umat Katolik DIY,
serta dinamika FMKI DIY. Kalau sudah diperbuat dan dilaksanakan FMKI, carilah
dulu yang sekiranya belum dilakukan”. Kami mengatakan tersebut sepengetahuan
Rama Vikep DIY, Fl. Hartasubana, Pr dan juga dengan rama PK4 rama R.Sugihartanta, Pr di Keuskupan waktu
itu.
Selang beberapa waktu
mereka datang dengan otoritas Bapak Uskup, maka jadilah kepengurusan Vox Populi
Institut di Jawa Tengah dan DIY. Begitulah akhirnya PK3 dan FMKI mengakomodir
keberadaan VPI. Begitulah dinamikannya, dan ketika mengadakan konggres di
Jakarta dengan menghadirkan orang-orang yang nota bene “ekstrim” bagi umat
Katolik, rekan-rekan dari Kota Yogyakarta, ramai-ramai mengundurkan diri
sebagai Pengurus VPI. Dan sebelum mereka mundur telah datang dulu di PK3 untuk
mencari pertimbangan. Jawab kami pada waktu itu “kalau itu tidak sesuai dengan
hati nuranimu, ya lakukan seeperti yang engkau yakini”. Kepengurusan Kota
Yogyakarta menjadi vakum.
Saya lanjutkan ke FMKI
DIY ya. Pada tahun 2017 (kalau saya tidak lupa), sebagai orang PK3, saya
berpesan kepada adik-adik Pemuda Katolik. Ada sekitar 7 orang Pengurus Pemuda
Katolik Komda DIY, Cabang Sleman, Kota Yogyakarta dan Bantul, ada perempuannya
juga. Pesan saya begini: “Kalian itu sebagai ormas Katolik wajib juga aktif di
FMKI, baik di tingkat kota/kabupaten atau propinsi. Bergabunglah dan jadilah
kritis, sebab nampaknya nanti di FMKI ada perkembangan dan perubahan-perubahan.
Tetapi saya tidak tahu bagaimana perubahan dan perkembangan itu”. Hal tersebut
bisa dicek kepada mereka antara lain: Petrus Eko Nugroho, Antonius Hendrianto, Frans
Kurniawan, Denstefa, G.Indra, Rio Mayrola, Gaby, Ajeng, dan lainnya lupa. Dari
mereka yang saya sebut Petrus Eko Nugroho dan Anton Hendriyanto yang cukup
aktif di FMKI.
Tahun 2018 ada moment ulang tahun FMKI, dan Jawa Tengah – DIY mengadakan perayaan ulang tahun bersama. Waktu itu diselenggarakan di Semarang. Sayang saya tidak punya dokumennya. Tempatnya di rumah retret Krapyak Semarang Barat. Ulang tahun FMKI ke 20, saya sebagai aktivis merasa ingin membuat Mars FMKI sebagai penyemangat. Juga berfikir sebagai sebuah rumah bersama kok enggak punya mars. Meskipun tidak akyif sekali tetapi rasa handarbeni FMKI masih melekat. (bersambung)

Posting Komentar untuk "Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (14)"