MENCARI KEADILAN PADA TUMPUKAN PALING BAWAH KEMANUSIAAN

Oleh: Andreas Chandra, CPLA,Pemerhati Isu Sosial

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta


Di kolong jembatan, di pinggir rel kereta, di gang sempit yang tak pernah disentuh cahaya kebijakan, ada manusia-manusia yang hidupnya diperlakukan seperti sisa. Mereka bukan angka dalam data kemiskinan yang rapi dipresentasikan pejabat di ruang ber-AC. Mereka adalah tubuh-tubuh nyata yang lapar hari ini, sakit tanpa obat, dan mati tanpa ada yang mencatat namanya dengan benar.

Kita bicara soal keadilan seolah ia barang yang tersedia di etalase, tinggal pilih dan bayar. Tapi bagi mereka yang berada di tumpukan paling bawah kemanusiaan: pemulung, pengemis, buruh harian tanpa jaminan, korban penggusuran, anak-anak jalanan yang tumbuh tanpa siapa pun bertanya kabar mereka keadilan adalah fatamorgana. Ia diucapkan dalam pidato, dijanjikan dalam kampanye, lalu menguap begitu kamera dimatikan.

Yang mengerikan bukan hanya kemiskinan itu sendiri. Yang mengerikan adalah bagaimana masyarakat, dan negara, begitu mudah menormalkan penderitaan mereka. Kita melangkahi tubuh yang tidur di trotoar sambil sibuk mengeluh soal macet. Kita mencemooh pengemis sebagai pemalas, tanpa pernah bertanya sistem macam apa yang telah membuang mereka sejauh ini. Kita membangun mall megah di atas tanah yang dulu adalah rumah bagi ratusan keluarga miskin, lalu menyebutnya "pembangunan".

Hukum, yang katanya buta terhadap status sosial, ternyata punya mata tajam untuk membedakan siapa yang berdasi dan siapa yang compang-camping. Pencuri sandal bisa dihajar massa dan diseret ke penjara, sementara pencuri uang rakyat triliunan rupiah masih bisa tersenyum di depan kamera, bahkan menikmati fasilitas mewah di balik jeruji yang katanya "penjara". Di mana letak keadilan ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas?

Kita terlalu sibuk membicarakan keadilan dalam bahasa abstrak konstitusi, undang-undang, hak asasi sementara di lapangan, keadilan sesungguhnya adalah sepiring nasi untuk anak yang menangis kelaparan, adalah atap yang tak bocor saat hujan, adalah martabat yang tak diinjak hanya karena seseorang lahir miskin.

Mereka yang berada di dasar bukan sedang meminta belas kasihan. Mereka menuntut haknya untuk diperlakukan sebagai manusia. Sesederhana itu, namun ternyata sesulit itu untuk diwujudkan oleh negara yang katanya berdasar Pancasila dan berkeadilan sosial.

Selama kita masih memilih diam melihat ketimpangan ini, selama itu pula keadilan hanya menjadi jargon kosong yang diwariskan dari satu rezim ke rezim berikutnya tanpa pernah benar-benar sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkannya: manusia di tumpukan paling bawah, yang hanya ingin diakui sebagai sesama manusia. 

Posting Komentar untuk "MENCARI KEADILAN PADA TUMPUKAN PALING BAWAH KEMANUSIAAN"