![]() |
| Rama Dr.Martinus Joko Lelono, M.Hum,.Pr (kanan) Dra.Ch.Suryanti, M.A. sebagai moderator |
IKAFITE (Ikatan Alumni Filsafat Teologi) Sanata Dharma, menyelenggarakan diskusi bulanan sejak ultah ke 60 Konsili Vatikan II, dan hari Kamis 10 September 2026 menggelar diskusi secara hybrid dengan tema “Batas-batas Imajinasi: Antara Kecurigaan, Kerja Nyata dan Harapan Kristenisasi. Diskusi menghadirkan natrasumber Rama Dr.M.Joko Lelono, M.Hum, Pr, penanggap Prof.Dr.Nur Ichwan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan F.X.Bambang Kusumo Prihandono, S.Sos.,M.A. serta dimoderatori Dra.Ch.Suryanti, M.A.
Kenyataan di lapangan mencatat
bahwa kristenisasi bukan hanya isu, tetapi sebuah realitas publik. Setidaknya
Rama Joko Lelono mencatat kedua lembaga Kristen dan Katolik yaikut Yakkum dan
Karinakas menghadapi hambatan-hambatan dalam membantu menolong orang-orang yang
terdampak bencana alam. Ada simbol yang menyerupai salib di kantong-kantong
obat yang dibawa dari rumah sakit Bethesda. Namun karya tidak hanya berhenti
disitu, ada ruang terbukan untuk dialog sehingga bisa mencairkan suasana, dan
karya sosial itu pun berjalan.
Dari Prof.Dr.Nur Icwan mengatakan
bahwa isu-isu kristenisasi tidak lepas dari dominasi budaya yang ada di
tempat-tempat tertentu. Bambang Kusumo menandaskan bahwa bantuan-bantuan sosial
untuk membantu orang-orang terdampak, ada yang tulus namun juga banyak yang
punya pamrih. Bantuan-bantuan sosial yang disalurkan dengan banyak menghadirkan
bendera-bendera, menunjukkan bahwa bantuan sosial juga mempunyai
kepentingan-kepentingan tertentu.

Paling kiri Y.Agus Tridiatno Koordinator IKAFITE untuk Yogyakarta
Selanjutnya Bambang Kusumo menyatakan
baik bahwa isu-isu kristenisasi membuka peluang untuk dialog dan percakapan.
Percakapan akan menjadi sesuatu yang menuju pada sebuah kata kerjasama. Diskusi
ini dihadiri tidak hanya alumni IKAFITE dan mahasiswa Teologi saja tetapi juga
dari kalangan aktivis kemasyarakatan katolik, dan cendekiawan katolik. Swa01

Posting Komentar untuk "Kristenisasi, Hambatan dan Pembuka Ruang Dialog"