EKOLOGI SPIRITUAL DENGAN MENGENAL ALLAH DALAM KEINDAHAN PENCIPTAAN

       

Para peserta bersama Tim Animasi Laudato Si

Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan oleh mendiang Paus Fransiskus pada tahun 2015, merupakan dokumen ajaran sosial Gereja Katolik yang membahas isu lingkungan hidup dan ekologi integral. Ensiklik ini menyoroti krisis ekologis global yang diakibatkan oleh eksploitasi alam, perubahan iklim, serta ketidakadilan sosial yang semakin mendalam. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat manusia, tanpa memandang agama atau latar belakang, untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (our common home), serta menekankan bahwa masalah lingkungan hidup berkaitan erat dengan masalah kemanusiaan dan sosial.

Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) Chapter Makassar telah mengadakan kegiatan pembekalan bagi pengurus, animator, penggerak atau aktivis lingkungan hidup di paroki se-Kevikepan Makassar. Kegiatan pembekalan merupakan tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi GLSI kepada para penggerak/ aktivis lingkungan hidup tanggal 6 April 2025 di Aula KAMS dan pengukuhan pengurus Gerakan Laudato Si’ Chapter Makassar pada Perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Bumi Rajawali tanggal 10 Agustus 2025.

Kegiatan pembekalan dilaksanakan pada Jumat-Sabtu (16-17 Januari 2026) di Aula Puspas Kevikepan Makassar di Jalan Serui dan diikuti oleh 66 orang peserta. Pembekalan bertema “Ekologi Spiritual dengan Mengenali Allah dalam Keindahan Penciptaan” yang berarti menghayati bahwa alam adalah ungkapan kasih dan kehadiran Allah yang menyapa manusia melalui keindahan, harmoni, dan kerentanannya. Dengan membuka mata hati dan pikiran pada setiap makhluk hidup, kita senantiasa diajak untuk selalu dapat bersyukur, menghormati, dan bertanggung jawab untuk merawat secara bersama.

Pembekalan diawali dengan sapaan dari Ibu Anna Meyliawati selaku Ketua GLSI Chapter Makassar yang mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas dukungan peserta dari paroki yang hadir, serta berharap agar kegiatan ini dapat bermanfaat saat peserta kembali ke paroki masing-masing.

Vikep Makassar dan Ketua Komisi KP-PMP KAMS RD. Alex Lethe dalam sambutan menyampaikan pesan bahwa hasil pembekalan ini diharapkan menjadi awal untuk membangun semangat umat dalam bergerak bersama dan senantiasa peduli terhadap keberadaan lingkungan hidup di paroki. Setelah itu Pastor Alex membuka secara resmi kegiatan pembekalan yang berlangsung selama dua hari.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari menghadirkan narasumber RD. Marthen Djenarut (Sekretaris Eksekutif Komisi KP-PMP KWI), Ibu Dr. Maria Ratnaningsih (konsultan lingkungan hidup), Bapak Cyprianus Lilik Krismantoro Putro (Ketua Presidium TKN GLSI), dan RD. Bernard Cakra Arung Raya (Ketua Komisi PSE KAMS).

Dalam presentasinya Pastor Marthen Djenarut menyampaikan materi krisis ekologi saat ini, yaitu terjadinya deforestasi, perubahan iklim, punahnya keanakeragaman hayati, polusi udara dan air, krisis sampah dan plastik, serta degradasi tanah dan krisis pangan. Gagasan pokok yang perlu dihidupi adalah keadilan ekologi sebagai keadilan integral di di mana ensiklik Laudato SI menegaskan bahwa Krisis Lingkungan adalah juga krisis moral dan sosial. Keadilan tidak hanya untuk manusia terhadap manusia tetapi juga manusia terhadap seluruh ciptaan. Batasan “keadilan Ekologis“ akan memberi hak yang seharusnya bagi bumi, makhluk hidup dan generasi yang akan datang. Hal ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu itu akan saling terkait/terkoneksi. Kita semua adalah bagian dari satu keluarga universal (LS 92).

Konsultan lingkungan hidup Ibu Dr. Maria Ratnaningsih menyampaikan peluang solusi dan peran masyarakat, di mana terdapatnya informasi mengenai data spasial kecamatan/kelurahan dan produksi sampah, membangun integrated infrastruktur di wilayah-wilayah kategori merah termasuk penyediaan lahan daur ulang dengan standar keamanan, database untuk diturunkan dalam bentuk program pemberdayaan pengolahan sampah menjadi nilai ekonomis, dan pendidikan warga tentang taat kelola sampah. Umat bersama masyarakat diharapkan dapat membangun ekonomi sirkular dari pengelolaan sampah berupa solusi inovatif, menciptakan aliran pendapatan baru, mengurangi pemborosan, menciptakan kesadaran lingkungan dalam mengubah perilaku, memperkuat ikatan sosial masyarakat untuk bekerja sama, hingga kontribusi pada pelestarian lingkungan.

Dalam kesempatan ini Mas Lilik menawarkan paroki hijau. Pertama, sebagai komunitas, paroki bukan sekadar kumpulan individu tetapi suatu persekutuan hidup. Umat Katolik menemukan makna dan pengalaman iman yang terkuat mereka dalam relasi di tingkat paroki. Kedua, stabilitasnya menjadikan paroki sebagai "rumah rohani" yang terus menerus membina umat. Di situ pengetahuan, kultur, hingga gaya hidup sehari hari ditentukan. Ketiga, sebagai bagian dari Gereja partikular, paroki menghubungkan yang lokal dengan yang universal. Gerak di tingkat paroki dapat menjadi bagian dari gerak kenabian yang lebih luas dan bermakna konstruktif serta saling melayani.

Paroki hijau memiliki tujuan strategis, yaitu: Pertama, Spiritual, di mana paroki sebagai pusat transformasi spiritual relasi manusia alam dan sesama ciptaan , dan Allah sendiri. Kedua, Edukatif dan Kultural, di mana paroki sebagai pusat pembelajaran sekaligus model gaya hidup berkelanjutan bagi umat dan masyarakat di sekitar oase ekologis. Ketiga, Praksis, di mana paroki sebagai penopang langsung kelestarian alam melalui desain fisik dan tata kelola yang ekologs. Keempat, Profetik, di mana paroki sebagai advokat, penjaga, pemelihara alam lingkungan setempat, melalui berbagai macam aksi ekologis.

Secara umum pembekalan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi pengurus dalam bidang kepemimpinan dan manajemen organisasi, memperdalam pemahaman spiritualitas pelayanan sebagai dasar dalam mengemban tanggung jawab, membangun kerja sama dan kekompakan antar pengurus, merumuskan komitmen bersama dalam menjalankan program kerja GLSI Chapter, dan membangun jejaring dan sinergi antara pengurus GLSI, Animator Laudato Si’, dan komunitas Gereja lokal.

Paroki hijau memiliki kunci penting, Pertama, mengelola sumber daya secara berkelanjutan (energi, air, dll), Kedua, mengembangkan tata kelola paroki yang ramah lingkungan, Ketiga, melakukan aksi nyata dan advokasi lingkungan, Keempat, kolaborasi dengan masyarakat sekitar, dan Kelima, membangun ekosistem paroki yang ekologis dan berkelanjutan.

Komunitas penggerak paroki hijau merupakan kelompok umat yang aktif untuk dapat memimpin, menginspirasi, dan menggerakkan umat paroki menjadi paroki Laudato Si’. Mereka berjumlah sekitar 20-30 orang. Membentuk Komunitas Penggerak yang merupakan tugas pertama dari tim inti (3-5 rasul perdana), sebelum dapat bergerak memobilisasi seluruh paroki.

No.2 dari kiri C.Lilik Krismantoro

Pastor Bernard Cakra Arung Raya menyampaikan materi mengembangkan kehidupan ekologis dalam kemitraan. Aksi atau gerakan secara internal yang dapat dilakukan adalah mengoreksi kembali gaya hidup dan perilaku, mengajak umat untuk berkontribusi dalam memulihkan kembali lingkungan yang rusak, menerapkan atau membiasakan cara hidup ekologis sebagai bentuk pendidikan di sekolah-sekolah Katolik, dan bersama pastor paroki memprogramkan pelatihan, retret/rekoleksi dan bersama seksi liturgi memasukan tema tentang ekologi ke dalam doa dan Ekaristi, Sementara secara ekternal dapat membangun produktivitas usaha dan konsumsi berkelanjutan, membuat strategi usaha yang memberikan dampak atau hasil yang baik bagi kehidupan sosial (investasi etis), mengurangi bahan bakar fosil dan menghindari aktivitas yang membahayakan planet dan manusia, mendukung ekonomi sirkular dengan metode 3 R (Reduce, Reuse, Recycle), dan dapat memprioritaskan pekerja perawatan dan melindungi martabat pekerja.

Setiap paroki/kuasi diharapkan memiliki budaya ekologis paroki di mana suatu cara hidup dan beriman yang dihayati oleh komunitas paroki, dijiwai oleh ajaran Laudato Si', yang secara aktif dan sadar mewujudkan kepedulian terhadap seluruh ciptaan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari hari, ibadah, pendidikan, dan pengelolaan sumber daya paroki. Budaya ini didasarkan pada kesadaran akan keterkaitan antara iman, keadilan sosial, dan pelestarian lingkungan, serta diwujudkan dalam semangat pertobatan ekologis dan spiritualitas yang menghormati martabat manusia dan nilai intrinsik alam.

Pembekalan telah menghasilkan rencana tindak lanjut atau program kerja yang sekiranya dapat dilaksanakan di tingkat paroki/kuasi maupun kevikepan. Beberapa program unggulan diantaranya pemilahan sampah, pembuatan eco enzyme, penanaman pohon, penciptaan biopori, hingga kursus Laudato Si’ umat. Kegiatan pembekalan diakhiri dengan Misa Perutusan yang dipersembahkan oleh RD. Marthen Djenarut dengan pengambil pesan perlunya pertobatan ekologis ( oleh: Norbertus Tri Suswanto Saptadi (Animator Laudato Si’ Keuskupan Agung Makassar) ).  

Posting Komentar untuk "EKOLOGI SPIRITUAL DENGAN MENGENAL ALLAH DALAM KEINDAHAN PENCIPTAAN"