![]() |
| Kuning Putih dan Merah Putih lambang Kekatolikan dan Keindonesiaan Foto waktu perarakan Salib Asian Youth Day 2017, Salib AYD menjadi latar belakang |
Kedekatan saya sebagai Sekretaris Pemuda Katolik dengan Ketua-ketua Komisi Kerawam, karena saya “nyekretarisi beliau-beliau” kecuali pak Totok Sudarwoto, karena saya bertugas di Semarang. Di Semarang saya dekat dengan Keuskupan, dekat dalam arti sesungguhnya. Ketua-ketua Komisi Pendidikan, Pewartaan, Hubungan Antaragama dan Kepercayaan dan PK4, paling sering berjumpa. Tidak hanya itu, saya mohon kepada beliau-beliau program apa saja yang bisa saya bahasakan dengan bahasa pemerintah, lalu saya programkan. Nanti kalau programnya disetujui Ketua-ketua Komisi yang melaksanakan, dan saya yang mempertanggungjawabkan. Enak ta, Pembimas tidak pernah membuat program kerja.
Kembali pada tugas saya sebagai
PK3 Kevikepan DIY, saya tidak perlu banyak mempelajari, karena sudah belajar
banyak dengan nyekretarisi Komisi Kerawam sebelumnya. Saya menentukan visi
dulu, yaitu menjadikan umat Katolik 100%, Indonesia 100%. Apa pengertian mengenai
100% Katolik, 100% Indonesia, saat itu masih terbatas, seperti yang dilakukan
Mgr.Al.Sugiyapranata, IJ.Kasima, YB.Mangunwijaya, Yos Sudarsa, dll
Lalu saya mencoba merumuskan dengan
Kekatolikan dan Keindonesiaan., yang merupakan bentuk kata sifat, dan saya
pertajam dengan karakter, watak. Menjadi berkarakter Katolik dan berkarakter
Indonesia. Keduanya sama-sama mempunyai 5 (lima) dimensi, dimensi Kekatolikkan
dan dimensi Keindonesiaan.
5 (lima) dimensi Kekatolikan ya
sama dengan lima pancatugas Gereja; liturgi,
persekutuan, pewartaan, kesaksian dan pelayanan. Jadi orang Katolik mesti bisa
melakukan pancatugas Gereja dengan sinergis, tidak dipisah-pisah. Saya hanya
mau melaksanakan liturgi saja, bukan. Karena melaksanakan tugas liturgi itu keempat
tugas lainnya sudah dilaksanakan juga.
Dalam liturgi khususnya Ekaristi, semua tugas tercakup. Tetapi untuk
tugas pelayanan misalnya, jiwa tugas yang lain merasepi. Hal ini terkait dengan
perutusan saat selesai Ekaristi. “Misa sudah selesai, pulanglah dengan
...(pasti berupa perutusan yang mestinya kita lakukan; mengasihi, melayani
dst).
Dalam melayani mestinya dijiwai
dengan keempat tugas lainnya. Melayani (berbuat sesuatu) dalam masyarakat mesti
ada landasan kasih (charitas et amor). Saat sekarang dalam melayani masyarakat
perlu disertai dengan menjadi saksi kebenaran, kejujuran dan keadilan. Ketiga
hal tersebut (benar, adil dan jujur) menjadi barang mahal, dari keluarga sampai
lembaga-lembaga tinggi.
Berat dan jarang dilakukan adalah
menjadi kesaksian, karena kadang orang merasa bahwa kesaksian adalah bentuk
kesombongan. Saya kira bukan kesombongan kalau dilakukan dengan bijak, asal
tidak dilandasi dengan kata-kata yang menunjukkan kesombongan. Bisa dicarilah.
Seperti saya menulis ini, bukan berarti kesombongan, karena ini diperlukan
untuk menjelaskan kepada publik, supaya publik tahu duduk permasalahannya. Ini
salah satu bentuk menjadi saksi kebenaran, keadilan dan kejujuran dengan
tulisan-tulisan.
Itulah karakter, watak Kekatolikan
yang 100%, berani menghidupi Liturgi, Persekutuan, Pewartaan, Kesaksian dan Pelayanan
(Liturgya, Koinonia, Kerygma, Martyria dan Diakonia).
Lalu 5 (lima) demensi
Keindonesiaan ya falsafah bangsa Indonesia, Pancasila. Apakah kita bisa menghidupi
dan melaksanakan ke lima sila Pancasila? Tapi itulah kalau mau menjadi 100%
Indonesia. Untuk menghidupi Pancasila, secara sederhana kita memakai
butir-butir P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Meski sudah dihapus
dari MPR tetapi itu masih baik dipakai.
Bagaimana kita menghidupi Ketuhanan Yang Maha Esa?
Saat ini banyak orang hanya
menghidupi Ketuhanan saja, itu pun tidak lengkap, setengah-tengah. Alasannya
dengan Ketuhanan sudah mencakup semuanya. Tidak. Buktinya ada orang-orang mengaku
taat beragama melakukan hal-hal yang melanggar kemanusiaan, keadilan,
kebenaran. Ada banyak juga yang mengabaikan persatuan nasional dengan
mengedepankan identitasnya (ya golongan, ya kedaerahan, ya keagamaan, dll). Itu
bukti bahwa belum dihayatinya kelima dimensi Keindonesiaan. Apalagi sila ke
lima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”
Itulah visi yang saya bangun, dan
ini sudah saya ajarkan kepada mahasiswa saya, ada di UGM (tiga tahun), di Mercu
Buana (enam tahun), AA-YKPN (13 tahun, sekarang masih), ISI Yogyakarta (13
tahun, sekarang masih). Katolik 100%, Indonesia 100%, menjadi Kekatolikan dan
Keindonesiaan, dan secara praksis bagi mahasiswa saya mencanangkan Profesional
dan Profetis. Profesional, seorang mahasiswa akan mengamalkan segala
keahliannya, dengan sekuat jiwa dan raga. Profetis, adalah kenabian. Segala
sesuatu yang dilakukan karena kepakaran dan keahliannya tetapi sifat-sifat
kenabian harus disertakan. Kenabian sekarang memperjuangan pencerahan masyarakat,
kebenaran, keadilan dan kejujuran.
Dalam filosofi Jawa dikenal “satriya
pinandhita” atau “sabda pendhita ratu”. Satria dalam pewayangan itu orang-orang
yang bekerja melayani masyarakat, pegawai, prajurit, dlnya. Pendeta, pasti
bijaksana dalam keputusan dan tindakannya. Sabda itu pasti dikeluarkan oleh
pemimpin dalam hal ini pemimpin tertinggi ya ratu, raja, presiden, perdana
menteri dlnya. Pendeta ya sama, pasti keluar kata-kata (sabda) yang bijaksana, aman
dan sejuk di masyarakat. (bersambung).

Posting Komentar untuk "Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (2)"