Tiga puluh peserta dan panitia
mengikuti pelatihan Laudato Si’ Generation batch 2 dari Gerakan Laudato Si
Indonesia (GLSI) pada 13-15 Maret 2026 di Umbulmartani, Ngemplak, Sleman,
Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung tiga hari ini adalah bagian penting dari
upaya membangun gerakan ekologis di tengah-tengah orang muda Katolik. Peserta
berasal dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Cilacap, Surakarta,
Semarang, Malang, dan Yogyakarta, dengan latar belakang guru, pekerja muda, dan
pelajar Katolik.
Pelatihan ini bertujuan untuk
mengajak orang muda bukan hanya (1) memahami pokok-pokok ajaran iman yang ada
dalam ensiklik Laudato Si; tetapi juga (2) membangun kepekaan ekologis Katolik
muda baik melalui Analisis Sosial Ekologis maupun membaca tanda-tanda alam
(melalui indikator alamiah) tetapi bahkan lebih jauh lagi, (3) bagaimana
menerapkannya secara praktis di tengah hidup sehari-hari dan masyarakat lewat
aksi ekologis pribadi, membangun aksi transformatif, dan terlibat dalam gerakan
kewargaan yang ada.
Matilda Tjundawan, selaku ketua
panitia membuka dinamika kegiatan dengan mengajak peserta mendiskusikan
problem-problem riil lingkungan hidup yang ada di sekitar ruang hidup peserta
yang berasal dari berbagai daerah. Kesadaran ini kemudian diolah lebih lanjut
dalam sesi selanjutnya. Kepekaan ekologis dan daya kritis peserta dibangun
melalui Analisis Sosial dan Problem Solving yang dibawakan oleh
Cyprianus Lilik K. P. Koordinator Nasional GLSI. Pemahaman kritis Pemahaman
tentang Spiritualitas Laudato Si’ disampaikan oleh Kristien Yuliarti. Anggota
Tim kerja nasional GLSI sekaligus pendiri Omah Hijau, Malang.
Peserta selanjutnya diajak untuk
mendalami realitas krisis ekologis bersama Prof.Dr. Pramana Yuda, guru besar
Fak. Teknobiologi UAJY, sekaligus ketua tim Laudato Si; UAJY. Pak Pramana Yuda
mengajak peserta mempelajari kompleksitas krisis ekologi di udara dan
mengenalinya melalui bioindikator terbaiknya, yakni pengamatan burung-burung.
Kehadiran burung-burung menandai kualitas udara dan habitat. Peserta juga
diajak mengakrabi soundscape dan mengenali bahwa keanekaragaman suara
alamiah juga menandakan lingkungan hidup yang sehat. Sementara itu Ibu Ester
pelaku pertanian urban dan gaya hidup ugahari di Kebun Candi mengajak peserta
lebih mendekatkan diri pada alam dengan mengenali berbagai jenis tanaman pangan
dan bagaimana upaya memuliakan tanah dengan mengembalikan kembali brbagai
bentuk kehidupan mikro di dalamnya. Kekayaan ragam pangan nusantara dan pola pangan
berkualitas diperkenalkan oleh Bhuki Prima Sari dari Bhumi Bhavana. Melalui
paparan yang kongkrit, kaya, dan dan inspiratif peserta diajak untuk berkelana
menjelajahi cakrawala pangan nusantara.
Dimensi struktural dari tantangan
ekologis yang kita hadapi bersama dengan sangat kuat dan mendalam disampaikan
oleh RM. Martin Jenarut, SH. MH, sekretaris eksekutif Komisi Keadilan
Perdamaian- pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia. Romo
yang berasal dari Ruteng dan sangat aktif melakukan upaya-upaya perjuangan
keadilan dan perdamaian ini memaparkan posisi dan alasan Gereja Katolik menolak
penawaran Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) yang diajukan
pemerintah melalui PP No. 25 Tahun 2024 lalu.
Romo juga memaparkan kerangka pertimbangan teologis-moral Gereja dalam
mengambil keputusan-keputusan sulit semacam ini. Romo yang juga menjadi
inisiator pelatihan Laudato Si’ Generation ini juga menekankan perlunya orang
muda katolik masuk dalam ranah advokasi ekologis yang semakin menantang ke
depan.
Kesadaran komprehensif peserta
dibangun dengan bersama-sama melakukan kajian membangun praksis hidup Laudato
Si’ pada tingkat pribadi, keluarga, dan masyarakat dengan dipandu oleh Cyprianus
Lilik. Pertobatan ekologis berpuncak dengan pengakuan dosa ekologis pribadi. Seluruh
rangkaian kegiatan ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh Rm
Martin Jenarut yang dengan lantang menegaskan perutusan peserta pasca kegiatan.
Sebagai perutusan peserta diajak memperdalam pemahamannya melalui tantangan
Laudato Si’ 21 hari pasca kegiatan yang disusun secara partisipatif seluruh
peserta.
“Momentum pertemuan ini menjadi
rumah untuk berbagi perspektif, pengalaman, dan ide-ide luar biasa yang dapat
dituangkan dalam praktik baik bersama,” Demikian tutur Matilda Tjundawan selaku
ketua panitia yang selain pekerja muda juga sekaligus aktivis pendampingan
buruh migran. “Kami melihat bagaimana setiap pribadi menunjukkan progres harian
yang sangat baik, bahkan di luar ekspektasi. Dari pribadi- pribadi hebat ini,
kami yakin benih-benih kebaikan akan ditebar di berbagai pelosok, hingga
semaian yang baik itu terus tumbuh.”
Undangan membangun aksi ditegaskan melalui follow up berupa tantangan aksi 21 hari bersama Laudato Si’. Tantangan awal ini menguatkan komitmen pribadi peserta pada pertobatan ekologis. Kehadiran berbagai pelaku langsung pegiat gerakan ekologi alternatif mengundang peserta agar menemukan ruang perutusan pribadi sebagai kader-kader muda pejuang kelestarian lingkungan. Gerakan citizen science yang sangat kaya dan dekat dengan dunia orang muda melalui berbagai platform digital.
Prof Dr. Pramana Yuda dalam diskusi
penutup menegaskan pesan agar semua peserta tidak hanya berfokus melakukan aksi
ekologis yang antroposentris semata (aksi ekologis yang menjadikan
manusia sebagai pusat kepentingan, cara pandang, dan aktivitas), melainkan juga
aksi ekologis yang didasarkan pada rasa hormat, pemahaman, dan pembelaan kepada
segenap ciptaan yang lain.
Pelatihan Laudato Si’ Generation ini
adalah bagian dari upaya Gerakan Laudato Si’ Indonesia menjangkau orangmuda,
sejalan dengan prioritas gerakan ekologis ini yang bersama ditetapkan dalam
Pernas 10 tahun Ensiklik Laudato Si’ pada September 2025 di Sentul City lalu. GLSI
juga baru saja menyelesaikan pelatihan Animator of Animators batch V secara
online yang berlangsung sepanjang Februari dan Maret 2026, dan sedang
menyiapkan pelatihan Animator Laudato Si’ batch VI pada bulan April-Juni 2026
mendatang.
Melihat bahwa semua kerusakan alam lahir dari
perilaku manusia, dan semua apa yang dilakukan manusia untuk bisa hidup
berakibat pada kerusakan alam, apakah kita perlu meninjau kembali asumsi dan
cara pandang kita atas arti kerusakan alam ?” Pertanyaan reflektif mendalam
dari seorang pelajar perempuan Solo menjadi puncak dari dinamika pelatihan
sebagai aksi penyadaran kritis ini. Tanpa menjadikan setiap pribadi di muka
bumi sebagai agen kesadaran ekologis kritis, kita semua akan jatuh pada tragedy
of the commons, ketika penghormatan, pembelaan, dan perlindungan kepada harta
kolektif kehidupan lenyap tergilas oleh individuasi impulsif peradaban
kapitalis.
Yogyakarta, 16 Maret 2026
Kontak person : Cyprianus Lilik K. P.
082135632002, rowanggesang@gmail.com


Posting Komentar untuk "Membangun Generasi Laudato Si’ melalui Edukasi Gerakan Ekologi Partisipatif"