Oleh Andreas Chandra, CPLA
|
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta |
Ada pepatah zaman now yang sangat populer di kalangan rakyat
kecil,"Gaji naik, kinerja turun."Ironi ini memang sudah menjadi
rahasia umum. Pejabat yang duduk di kursi tinggi seharusnya menjadi motor
penggerak kemajuan, kenyataannya banyak dari mereka yang hanya menjadi penghuni
sunyi yang menikmati fasilitas tanpa memberikan dampak positif nyata.
Inkompetensi pejabat bukan lagi sekadar masalah individual, melainkan sudah
menjadi ancaman sistemik yang menggerogoti fondasi Nation ini dari dalam.
Akar Masalah, Rekrutmen yang Salah Sasaran
Salah satu penyebab utama inkompetensi adalah sistem rekrutmen yang tidak
sehat. Banyak pejabat yang naik tanpa kemampuan, melainkan karena kedekatan
dengan kekuatan tertentu, nepotisme, atau transaksi politik. Ketika kursi
pejabat diberikan kepada siapa pun yang memiliki hubungan kuat, bukan kepada
yang berkompeten, maka sudah pasti sistem akan bermasalah. Pejabat seperti ini
biasanya tidak memiliki visi misi yang jelas, tidak mampu mengambil keputusan
tepat, dan lebih parahnya lagi, mereka takut mengambil risiko karena tidak tahu
harus berbuat apa.
Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan sering kali tidak relevan dengan
kebutuhan rakyat. peraturan dibuat tanpa penelitian yang mendalam, program
kerja hanya bersifat seremonial, dan pelaksanaan proyek-proyek strategis gagal
mencapai target. Ini semua adalah buah dari inkompetensi yang dibudidayakan
sejak awal.
Dampak Nyata, Rakyat yang Menanggung Beban
Dampak inkompetensi pejabat paling dirasakan oleh rakyat kecil. Contoh
sederhana ketika ada pejabat yang tidak kompeten menangani urusan perizinan,
investor raksasa memilih menutup investasinya dan pergi ke negara lain yang
lebih ramah investasi. Bagaimana dengan lapangan kerja? terciptanya pengangguran yang tinggi. Ketika
pembangunan infrastruktur gagal karena lemahnya pengawasan dari pejabat yang
tidak mengerti teknis, jembatan rubuh, jalan menjadi lubang lubang yang
mengancam keamanan pengguna jalan.
Dan yang lebih mengerikan, anggaran negara yang seharusnya untuk pembangunan
malah terbuang percuma karena perencanaan yang jelek. Triliunan Rupiah dana
pembangunan diserap untuk proyek-proyek yang gagal, sementara kebutuhan dasar
rakyat seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar masih jauh dari
terpenuhi. Ini semua adalah pengorbanan yang harus ditanggung rakyat hanya
karena sempitnya kemampuan pejabat yang seharusnya melayani.
Budaya Malu, Minimnya Akuntabilitas

Posting Komentar untuk "INKOMPETENSI PEJABAT"