Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (12)

S

Rekoleksi pasutri para aktivis kerasulan awam di Lentera Kasih
Kalibawang Kulon Progo
dengan tema: "Peran Keluarga Katolik Daalam Bermasyarakat"

ebagai Ketua Komisi PK3, mengolah segala sesuatu tentang situasi dan kondisi kemasyarakatan menjadi sesuatu yang mutlak . Ya sebisanya dan semaksimal mungkinlah diupayakan. Untuk itu sering diadakan diskusi kecil-kecilan, mengundang pengurus ormas Katolik dan beberapa orang yang dipandang bisa. Itu menjadi kebiasaan dan menyenangkan. Jadilah pertemuan rutin dan beberi label Saturday Coffee Morning (SCM)

SCM ya formal ya tidak, yang penting ngumpul duduk bareng, omong-omong dan terarah, yang hadir siapa saja boleh hadir, tetapi yang tetap timja PK3 dan pengurus ormas Katolik serta orang-orang yang seirama. Met.Kusumahadi, G.Sri Nurhartanta, Hary Cahya (sekarang sudah seda), R.Sigit Widiharta (juga sudah seda), Surya Adi Pramana, dan lainnya. Met.Kusumahadi dan Hary Cahya adalah termasuk tim-12 yang membuat RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang).

Kemudian hasilnya menjadi rekomendasi-rekomendasi yang kemudian dieksekusi baik oleh pribadi-pribadi  yang berkecimpung di institusinya, oleh ormas Katolik dan FMKI. Ada rekomendasi kepada Gereja dan ada rekomendasi kepada negara. Pokoknya pandai-pandailah para peserta SCM menyalurkan hasil omong-omong.

Selain diskusi dalam SCM, sebagai Ketua Komisi PK3 juga sebisa mungkin aktif masuk atau ikut diskusi-diskusi di kelompok yang ada. Sebut saja nama kelompok itu: Manuk Kolik, Kalitan (Katolik Militan), Supra Center, MEOS (Mangan Enak Omong Sakkemenge), kelompok orang muda (kelompoknya mas Lilik, Eko, Paijo, Beny, belakangan anak saya diajak Beny) dan kelompok orang muda lintas agama.

Kelompok orang muda ini lintas agama ini mengambil tempat di Wisma Mahasiswa Yogyakarta, lengkap ada dari ada Gusdurian, Hindu, Budha, Islam, Kepercayaan, Kristen dan Katolik. Waktu itu mencari nama untuk kelompok ini, lalu saya mengusulkan nama kelompok memakai “srawung”.  Ternyata istilah srawung mengena dihati mereka dan mereka sebarkan sebagai srawung antar iman, budaya dll. sampai sekarang istilah srawung dipakai dimana-mana.

Kelompok-kelompok ini memiliki kekhasan masing-masing. Misalnya Tarki Center, lebih untuk mengadvokasi pendidikan. R.Sigit Widiarta dari Atmajaya pada waktu itu sebagai Ketua Presidium FMKI DIY, dari sekolah-sekolah katolik beliau diserahi untuk advokasi. Ada H.Wakidjan, Komisi HAK Kevikepan DIY dan Kepala Sekolah Pangudi Luhur 2 Baciro, ada F. Wakidjan Komisi Pendidikan Kevikepan DIY dan dari SMP Stella Duce Dagen, dan dari cendekiawan katolik, Sr.Theresiani dari Yayasan Tarakanita.

Kelompok lain Supra Center, yang anggotanya ada MY.Esti Wijayati, YB. Wiyanjana, Ignatius Triyana, Ignas Suryadi, Antonius Sunarto, Med Kusumahadi, Hary Cahya dll. Kelompok studi ini pernah menyelenggarakan sarasehan pendidikan nasional dengan mengundang narasumber Darmaningtyas dari Majelis Luhur Taman Siswa, Dewan Pendidikan Propinsi DIY dan rektor Sanata Dharma, waktu itu pak Eka. Kami juga pernah menyelenggarakan rekoleksi pasutri pagi penggerak kerasulan awam di DIY, tas ijin rama Vikep B.Saryanta, Pr. Kami memberitahu dan meminta restu ke Komisi Pendamping Keluarga untuk mengadakan rekoleksi pasutri bagi aktivis kerasulan awam (bersambung)

 

 

Posting Komentar untuk "Sebagai Ketua Komisi PK3 2013-2019 ini yang saya kerjakan (12)"